more-share forum

Suplemen Untuk Fitness & Binaraga

Suplemen untuk fitnes dan binaraga sebenarnya juga baik untuk dipakai oleh atlit di cabang olahraga lain. Untuk keperluan pembahasan yang setopik dengan buku ini, maka fokus akan diberikan kepada fitnes dan binaraga. Namun pada bagian lebih lanjut dari bab ini akan dijabarkan secara singkat dan spesifik mengenai jenis-jenis suplemen yang berpotensi untuk meningkatkan performa pada beberapa cabang olahraga populer.

Untuk Meningkatkan Massa Otot & Kekuatan

Dalam fitnes dan binaraga, peningkatan berat badan lebih dipersempit artinya menjadi peningkatan massa otot. Beberapa komponen berat badan yang berfluktuasi adalah air, lemak, dan otot. Dari ketiga komponen tersebut, peningkatan massa otot merupakan tujuan spesifik yang paling ingin dicapai oleh praktisi fitnes dan binaraga. Adapun beberapa jenis suplemen untuk meningkatkan massa otot adalah:

Bubuk Protein

Protein, secara struktur terbentuk dari sekelompok asam amino dalam ikatan yang panjang. Otot, secara struktur juga terbentuk dari sekelompok asam amino dalam suatu ikatan yang panjang pula. Hal ini terbuktikan kembali dengan komposisi asam amino yang tinggi dalam daging yang kita konsumsi. Adalah suatu kesimpulan yang cukup aman untuk menyatakan bahwa untuk membangun otot (yang merupakan rangkaian asam amino) maka diperlukan pula konsumsi protein (juga rangkaian asam amino).

Protein bisa di dapat dalam berbagai wujud selain daging. Seperti yang telah di bahas dalam bab Nutrisi Makro, protein juga bisa di dapat dari sumber lain seperti telur, susu, dan kacang-kacangan. Untuk suplemen, protein umumnya di dapat dalam bentuk bubuk. Ada beberapa macam bubuk protein yang tersedia, antara lain: susu bubuk biasa, caseinate protein, whey protein, egg protein, soy protein, dan blended protein.

Susu Bubuk Biasa

Susu bubuk biasa yang berasal dari sapi memiliki kandungan protein yang cukup rendah dan merupakan salah satu sumber protein yang ekonomis. Umumnya per 100 gram bubuk, mengandung lebih kurang 28 gram protein (28% bobotnya adalah protein), lebih kurang 26 gram lemak (26% bobotnya adalah lemak) dan sisanya laktosa (lebih kurang 42%) dan abu (mineral). Varian dari susu bubuk di atas adalah susu skim, di mana komponen lemaknya telah dikurangi hingga mencapai 1 – 4%.

Protein dari susu sapi terdiri dari caseinate (80%) dan whey (20%). Jadi dalam contoh 28 gram di atas = 22,4 gram adalah caseinate protein sedangkan kandungan whey proteinnya adalah 5,6 gram. Adapun cara mendapatkan susu bubuk ini adalah melalui metode spray-dried (penghembusan dengan hawa kering) yang suhunya konon mencapai 400 derajat Celcius. Hal ini dikuatirkan akan mendegradasikan kualitas protein yang terkandung di dalamnya karena beberapa asam amino diketahui tidak tahan terhadap suhu di atas 120 derajat Celcius.

    Caseinate Protein

Caseinate protein adalah protein susu yang telah dipisahkan komponen whey-nya. Jenis bubuk protein ini cenderung lebih murah karena tersedia dalam jumlah yang relatif lebih banyak. Salah satu keunikan dari caseinate protein adalah daya serapnya yang cenderung lebih lambat daripada whey protein, sehingga seringkali digunakan oleh praktisi fitnes dan atlit binaraga untuk malam hari menjelang tidur. Latar belakang pemikirannya termasuk logis, karena saat tidur adalah saat kita menghentikan segala aktifitas termasuk makan untuk waktu yang cukup lama. Konsumsi protein yang berdaya serap pelan seperti caseinate protein diharapkan akan membantu menyediakan suplai asam amino secara lebih lambat.

Caseinate protein juga tersedia dalam beberapa olahan mineral seperti sodium atau calcium. Untuk aplikasi fitnes, binaraga dan kesehatan calcium caseinate adalah sediaan caseinate protein yang lebih dianjurkan daripada sodium caseinate.

Whey Protein

Inilah salah satu bubuk protein terpopuler sepanjang masa! Komposisi asam aminonya yang kaya serta daya serapnya yang tinggi menempatkannya sebagai protein dengan nilai biologis (biological value) yang tertinggi (104) melebihi nilai biologis protein telur (100). Inilah mungkin salah satu sebab penjualan suplemen ini begitu sukses sejak awal tahun 1990-an. Hingga kini, masih belum ditemukan jenis protein dari alam yang memiliki nilai biologis di atas whey protein.

Whey protein adalah protein susu yang telah dipisahkan komponen caseinate-nya. Biasanya proses terpisahnya whey protein dari caseinate ini terjadi pada saat pembuatan keju. Awal mulanya bentuknya liat seperti adonan kue karena masih mengandung lemak, abu mineral, dan laktosa. Kemudian whey “mentah” tersebut diolah kembali melalui serangkaian proses pengeringan dan penyaringan dengan temperatur rendah untuk mendapatkan hasil akhir bubuk yang berwarna pastel.

Kandungan whey protein juga sangat bervariasi, dari 34% (yang masih ada kandungan laktosa dan lemaknya) hingga kandungan 97% (ion-exchange whey protein isolate). Kandungan protein 34% – 80% dinamakan whey protein concentrate (WPC). Kandungan protein 92% dinamakan whey protein isolate (WPI). Yang membedakan dari jenis whey protein ini adalah kandungan protein, lemak dan karbohidratnya. Untuk WPC yang memiliki kemurnian tinggi (80%) biasanya sudah memiliki kadar lemak yang cukup rendah (5-6% bobot) serta kadar karbohidrat yang cukup rendah pula (8% bobot) dan seringkali sudah dianggap sangat memadai untuk dijadikan suplemen. Sementara WPI memiliki kadar lemak dan karbohidrat yang lebih rendah dari WPC, namun secara garis besar kualitas dari kedua jenis protein ini cukup berimbang.

Salah satu keunikan dari whey protein adalah bobot molekul-nya (molecular weight) yang cukup ringan. Semakin ringan bobot molekul-nya, maka semakin cepat pula protein tersebut terserap ke dalam tubuh. Karena kandungan globul lemak yang sedikit lebih tinggi pada WPC, maka ia memiliki bobot molekul yang sedikit lebih berat dibandingkan WPI.

Karena daya serapnya yang cepat (berkat bobot molekul-nya yang ringan), whey protein adalah jenis suplemen protein yang sangat cocok untuk dikonsumsi segera latihan dan saat bangun pagi. Kondisi setelah latihan adalah kondisi kritis di mana penyediaan energi sangat rendah sementara sel-sel tubuh banyak yang mengalami kerusakan akibat stress dan oksidasi yang tinggi sehingga sangat memerlukan asupan yang bersifat segera dan mudah diserap. Kondisi saat bangun pagi adalah kondisi di mana tubuh telah tidak menerima makanan dalam kurun waktu yang cukup lama (biasanya 6 – 8 jam) dan tubuh dalam kondisi yang lapar dan siap menerima nutrisi pembangun yang berdaya serap cepat.

Riset terakhir juga membuktikan bahwa ternyata konsumsi whey protein sebelum latihan juga memberikan beberapa manfaat. Pertama, konsumsi whey protein menyediakan energi siap pakai dari asam amino sehingga dapat mencegah tubuh mendapatkan energi dari otot. Kedua, whey protein terbukti mampu meredakan stress yang disebabkan oleh racun (oxidative stress) yang diproduksi saat latihan. Hal ini berarti tubuh lebih siap dan mudah untuk menjalani masa pemulihan latihan.

Fenomena whey protein tidak berhenti di sini. Para ilmuwan menyelidiki apa saja elemen whey protein yang demikian bermanfaat sehingga atlit mengalami perkembangan otot yang cepat dengan mengkonsumsinya. Adalah faktor pertumbuhan (growth factor) dalam whey protein yang membawa sederet manfaat tersebut. Faktor pertumbuhan tersebut adalah antara lain: glycomacropeptide, alpha-lactalbumin, beta-lactoglobulin, bovine serum albumin, lactoferrin, lactoperoxidase, protease-peptone, dan lysozyme.

Tidaklah mengherankan, bahwa ternyata ditemukan oleh para peneliti bahwa whey protein juga merupakan pemicu (prekursor) Glutathione terbaik untuk tubuh manusia. Glutathione adalah antioksidan terkuat yang diproduksi sendiri oleh tubuh manusia yang memiliki pengaruh positif terhadap kekebalan tubuh, maupun dalam menekan perkembangan sel kanker.

Egg Protein

Jenis suplemen protein ini pernah populer pada akhir tahun 80-an dan mulai tersisih oleh whey protein sejak pertengahan tahun 90-an. Sebelum whey protein ditemukan, protein putih telur memang menjadi suplemen protein andalan bagi para atlit maupun praktisi fitnes. Telur utuh, dengan teksturnya yang lengket dan aromanya yang kurang sedap memang sulit sekali untuk dikonsumsi secara terus menerus, hari demi hari.

Bubuk protein dari telur putih menawarkan sumber protein yang praktis, dan tidak berbau (bagi yang tidak diberi rasa). Uniknya suplemen bubuk protein putih telur ini juga bisa dimasak layaknya telur putih biasa setelah dicampurkan dengan air.

Kini suplemen bubuk protein putih telur sudah jarang sekali ditemukan karena selain tersisih oleh popularitas whey protein yang memiliki nilai biologis lebih tinggi, juga karena harganya yang termasuk mahal karena biaya manufaktur yang tinggi. Namun bubuk protein putih telur lebih sering ditemukan dalam berbagai bubuk protein campuran (blended protein).

Soy Protein

Sesuai namanya, soy protein adalah bubuk protein yang berasal dari kacang kedelai. Mengapa kacang kedelai dan bukan dari sumber nabati lainnya? Karena kacang kedelai memiliki kandungan protein tertinggi dengan nilai biologis tertinggi dibandingkan dengan sumber nabati lainnya. Selain itu, kacang kedelai tersedia dalam jumlah yang berlimpah (mudah didapat) dan memiliki beberapa manfaat lain.

Dalam bentuk bubuk protein, kacang kedelai yang sangat murni bisa mencapai kandungan bobot 92% protein. Ia juga merupakan salah satu sumber protein yang sangat kaya akan BCAA (Branch-chained amino acids), glutamine, serta isoflavone.

Isoflavone adalah zat daidzein dan genistein yang terkandung di dalam kacang kedelai yang memiliki struktur kimiawi yang serupa dengan estrogen (hormon pada wanita). Pada wanita menopause (yang memiliki sirkulasi hormon estrogen yang rendah), dimulainya pelepasan kalsium dari tulang maupun menurunnya penyerapan kalsium dari makanan menimbulkan risiko osteoporosis. Penelitian ilmiah menemukan bahwa wanita menopause yang mengkonsumsi isoflavone dari kacang kedelai bisa mengembalikan penyerapan kalsium dari makanan dan mencegah pelepasan kalsium dari tulang.

Temuan ini membuat soy protein suplemen protein yang digemari oleh para praktisi fitnes dan atlit wanita. Namun hal ini bukan berarti praktisi fitnes dan atlit pria tidak bisa mendapatkan manfaat asupan protein yang berkualitas dari soy protein.

Blended Protein

Blended protein adalah salah satu trend terbaru dalam suplementasi bubuk protein. Masing-masing produsen protein mulai meramu suplemen protein yang menggabungkan berbagai sumber. Hal ini selain berpotensi menurunkan biaya produksi (karena beberapa jenis protein yang lebih murah daripada protein lain) juga menawarkan iming-iming pelepasan protein yang bertahap melalui konsep time-released atau sustained-release protein.

Konsep ini menawarkan logika yang semi-ilmiah, namun kenyataannya produk tersebut akan terjebak sendiri di dalam posisi yang kurang jelas. Yang dimaksudkan adalah demikian: bahwa dalam 1 kali penyajian suplemen blended protein tersebut menawarkan 20 gram protein dari berbagai sumber (whey, putih telur, caseinate, dan soy protein). Umumnya produk tersebut diklaim akan terserap dalam waktu 5 – 12 jam (tergantung merk yang dibeli). Hal ini bila diterjemahkan secara matematis, maka hanya akan menghasilkan laju penyerapan asam amino rata-rata 1,6 – 4 gram per jam (60 menit). Jumlah tersebut adalah sangat sedikit untuk memberikan manfaat anti-katabolik (mencegah penyusutan otot) seperti bagaimana produsennya ingin para konsumen untuk percaya.

Lalu apakah blended protein ini tidak bermanfaat? Ya dan tidak. Blended protein ini bermanfaat untuk meningkatkan asupan protein dalam diet sehari-hari seorang praktisi fitnes dan atlit binaraga. Tidak, protein ini tidak akan memberikan manfaat yang sesuai dengan yang dijanjikan oleh produsen atau penjualnya.

Bubuk Penambah Berat Badan

Suplemen penambah berat badan sempat populer hingga awal tahun 90-an. Dan hingga kini, masih banyak ditemukan dan ditawarkan di Indonesia karena suplemen ini memang memiliki pengikut tersendiri.

Orientasi pembuatan suplemen ini adalah untuk menambahkan kalori sebanyak mungkin ke dalam satu kali penyajian. Dengan demikian apabila dikonsumsi dalam frekuensi dan jumlah yang banyak, akan memberikan kelebihan kalori (surplus kalori) yang akhirnya menghasilkan peningkatan berat badan.

Umumnya bubuk penambah berat badan ini memiliki komposisi protein yang tidak begitu tinggi (15 – 25% dari total bobot produk). Sisanya adalah penambah kalori seperti lemak, karbohidrat (terutama gula), dan MCT (sejenis lemak yang diolah seperti karbohidrat oleh tubuh) dengan sederetan tambahan vitamin dan mineral.

Apakah produk ini efektif? Ya, produk ini memang efektif, terutama apabila dikonsumsi segera sebelum latihan dan di antara makan. Namun yang perlu diperhatikan adalah agar konsumen menggunakan produk ini untuk rentang waktu yang tidak terlalu lama. Pilihlah pula yang memiliki kandungan protein yang tinggi, serta kandungan gula (sugar) yang rendah.

MRP (Meal Replacement Protein Powder)

Produk ini pertama kali dikembangkan oleh Dr. Scott Connelly seorang dokter nutrisi dan ilmuwan bidang pengembangan protein dari Met-Rx. Awalnya produk ini dibuat untuk memberikan dukungan nutrisi pada pasien pasca operasi di klinik rumah sakit tempat ia bekerja. Namun, profil nutrisinya yang unik membawa kesuksesan tersendiri dalam industri suplemen pada awal dan pertengahan 1990-an.

Kemudian banyak perusahaan yang mulai mengikuti jejaknya dengan mengembangkan produk serupa, hingga saat ini telah ada setidaknya 30 lebih perusahaan yang menawarkan MRP kepada praktisi fitnes dan atlit binaraga di Amerika Serikat. Secara umum 98% dari produk tersebut ditawarkan dalam bentuk sachet per 1 kali penyajian.

MRP pada dasarnya adalah versi mini dari bubuk penambah berat tahun 1980-an. Dikatakan versi mini karena kandungan kalorinya yang jauh lebih rendah karena komposisi karbohidrat dan lemak yang lebih rendah, sementara kandungan proteinnya justru mengalami sedikit peningkatan. Terlepas dari namanya yang mengindikasikan sebagai pengganti makanan, produk MRP tetap merupakan suplemen yang tidak bisa berdiri sendiri dan lebih baik bila dijadikan tambahan terhadap pola makan yang sudah baik dan teratur.

Asam Amino

Suplemen ini adalah suatu fenomena yang menarik untuk industri fitnes di Indonesia. Popularitasnya di tahun 80-an sungguh luar biasa. Namun di Amerika, seiring munculnya bubuk whey protein, suplemen ini pun tenggelam dan sudah merupakan suplemen yang terlupakan di negeri asalnya. Di Indonesia, suplemen tablet asam amino justru menjadi primadona tersendiri karena bentuknya yang praktis serta sesuai dengan daya beli sebagian besar orang.

Produk ini pun sebenarnya telah mengalami evolusi sesuai dengan kemajuan zaman karena telah menggunakan kandungan whey protein. Salah satu bentuk yang tidak kalah menariknya adalah asam amino cair yang diyakini memberikan efek yang tak kalah bila dibandingkan dengan yang tablet.

Produk ini diperkirakan akan terus menjadi primadona untuk pasar di Indonesia karena selain cukup terjangkau, juga memang menawarkan efektifitas produk yang cukup baik.

Untuk anjuran pemakaian, 3-5 butir sebelum dan sesudah latihan dirasakan akan membawa hasil yang cukup signifikan. Untuk individu dengan tubuh yang lebih besar, kebutuhan akan asam amino ini bisa mencapai 10 atau 15 butir per penyajian.

Creatine Monohydrate

Suplemen ini muncul pada saat yang hampir bersamaan dengan whey protein, yakni awal tahun 1990-an. Fungsi dasarnya ada 2 macam, yakni meningkatkan volume sel otot dan meningkatkan kekuatan otot untuk aktifitas intensitas tinggi dengan durasi yang pendek.

Cara creatine monohydrate meningkatkan volume sel otot adalah dengan cara hidrasi (menarik air) ke dalam sel otot. Apabila setiap individu sel otot mengalami pembesaran volume serabut otot pun akan menjadi lebih maksimal. Untuk fungsi ini, creatine monohydrate memang akan lebih baik bila dipadukan dengan asupan protein dan asam amino yang cukup.

Sementara itu, dalam meningkatkan kekuatan otot untuk aktifitas intensitas tinggi dengan durasi yang pendek, creatine monohydrate yang dikonsumsi akan berubah menjadi creatine phosphate. Creatine phosphate inilah yang berperan dalam siklus ADP (Adenosine Diphosphate) ke ATP (Adenosine Triphosphate) dan sebaliknya. ATP adalah molekul energi dari setiap kontraksi otot rangka dalam tubuh manusia. Setiap kontraksi otot merubah ATP menjadi ADP, dan umumnya diperlukan 10 detik kontraksi otot maksimal untuk menghabiskan ATP menjadi ADP. Dan diperlukan lebih kurang 3-5 menit untuk mengembalikan ADP menjadi ATP.

        Creatine Monohydrate

                                ATP

 

        Creatine Phosphate            10 detik                    5 menit

 

                                ADP

Gambar di atas merupakan representasi dari rumus sederhana dari proses terjadinya energi kontraksi maksimal ini, yakni:

Cr-phos + ADP + H        Cr-free + ATP

Kedua fungsi ini, baik peningkatan volume sel otot maupun peningkatan kekuatan kontraksi otot (yang identik dengan latihan beban) telah terdokumentasi dalam berbagai studi klinis. Hingga hari ini telah ada setidaknya 100 studi klinis terhadap efek peningkatan performa dan keamanan suplemen creatine monohydrate pada manusia. Hal ini menjadikan creatine monohydrate sebagai salah satu zat yang paling banyak diteliti dan dibuktikan manfaatnya sebagai suplemen ergogenik (peningkat performa).

Akhir-akhir ini muncul beragam jenis creatine yang ditawarkan oleh berbagai perusahaan suplemen dari USA, seperti Creatine Titrate, Creatine Malate, Creatine Anhydrous, Buffered Creatine hingga Creatine Ethyl Ester. Namun tidak ada satupun creatine yang memiliki pembuktian klinis sebaik creatine monohydrate.

Berbagai teori tentang penyerapan creatine di dalam tubuh masih saling bertentangan dan belum memiliki pembuktian ilmiah yang meyakinkan. Sejauh ini, teori-teori tersebut pun dimulai dan dipakai oleh perusahaan suplemen untuk memasarkan produknya kepada konsumen. Untuk itu, masih menjadi suatu garansi untuk menggunakan creatine monohydrate sebagai jenis creatine yang paling aman dan efektif. Hal ini bukan berarti tidak mungkin ada jenis creatine yang lebih baik di masa yang akan datang. Hanya saja, uji klinis yang membuktikan khasiat dan manfaat dari jenis-jenis creatine baru tersebut belum ada.

Untuk dosis konsumsi creatine monohydrate, beberapa pakar dunia menganjurkan adanya periode loading (pengisian) dengan asupan sebagai berikut: 4 x 5 gram per hari selama 5 hari pertama, kemudian dilanjutkan dengan pemakaian sebanyak 5 gram per hari (sesudah latihan) dari hari ke-6 hingga hari ke-45. Hentikan pemakaian selama 10 – 14 hari, lanjutkan siklus. Untuk siklus pemakaian seperti ini ada baiknya dilakukan oleh atlit-atlit yang bertanding untuk cabang-cabang olahraga yang membutuhkan tenaga eksplosif singkat seperti angkat besi, angkat berat, panco, dan bahkan renang dan lari sprint. Namun untuk keperluan latihan beban praktisi fitnes, konsumsi 3 – 5 gram sebelum atau sesudah latihan, dan hanya dikonsumsi pada hari latihan adalah anjuran konsumsi yang lebih tepat guna.

Untuk Mencegah / Meminimalisasi Penyusutan Massa Otot

Ada beberapa suplemen bubuk protein yang dibisa digunakan untuk membantu meminimalisasi penyusutan massa otot. Mereka adalah jenis protein yang memiliki daya serap lebih lambat daripada whey protein dan telur, seperti soy protein dan caseinate protein. Terlepas dari tujuan tersebut, sebenarnya untuk meminimalisasi mencegah atau mengurangi penyusutan massa otot (katabolisme) adalah dengan cara-cara berikut ini:

  • Beristirahat yang cukup.

  • Tidak berlebihan dalam porsi latihan karena terkadang lebih banyak belum tentu lebih baik.

  • Memastikan adanya asupan asam amino / protein setiap 3 jam sekali.

  • Asupan kalori yang cukup dari makanan.

  • Menjaga kesehatan dan imunitas tubuh agar tidak terganggu penyakit.

Kembali kepada topik suplemen untuk tujuan tersebut, ada beberapa jenis suplemen yang juga didukung oleh studi klinis dan logika ilmiah yang cukup solid dalam mencegah atau mengurangi penyusutan massa otot:

L-Glutamine

Glutamine adalah asam amino yang paling banyak yang ada di dalam otot rangka manusia, komposisinya bisa mencapai 60% dari total asam amino dalam otot. Adalah suatu pemikiran yang cukup masuk akal apabila glutamine juga merupakan asam amino yang paling banyak terkuras oleh latihan fisik yang intensif. Hal ini juga dibuktikan oleh sekelompok ilmuwan yang meneliti tingkat glutamine dalam darah dan otot beberapa pelari marathon dan atlit balap sepeda, di mana kadar glutamine dalam tubuh mereka sangat rendah bila dibandingkan rekan atlit lainnya.

Secara teknis, glutamine bisa diproduksi oleh tubuh melalui asam amino yang bernama asam glutamik (glutamic acid), namun pada praktisi fitnes maupun atlit dengan tingkat aktifitas fisik (dan pemecahan glutamine) yang demikian tinggi, maka asam amino glutamine menjadi asam amino yang esensial bersyarat. Artinya, asam amino ini, meskipun mampu diproduksi oleh tubuh namun laju produksinya masih tidak sebanding dengan laju ia dipecah oleh tubuh untuk aktifitas fisik yang tinggi, sehingga memerlukan asupan dari luar untuk memenuhinya.

Untuk fitnes dan binaraga selain untuk mencegah atau mengurangi penyusutan massa otot, konsumsi glutamine terutama dalam bentuk asam amino tunggal L-Glutamine juga dilakukan dengan tujuan meningkatkan kadar hormon pertumbuhan yang anabolik, serta meningkatkan kesehatan pencernaan dan daya tahan tubuh. Beberapa atlit professional ataupun individu dengan porsi latihan yang tinggi dan super intensif mengkonsumsi hingga 20 gram L-Glutamine per hari, di bagi dalam 5 kali konsumsi. Untuk praktisi fitnes yang tertarik untuk menggunakan suplemen ini, bisa mengkonsumsi 2 – 4 gram per hari.

BCAA (Branched-Chain Amino Acids)

BCAA atau Cabang Asam Amino yang berantai terdiri dari 3 asam amino tunggal, yakni L-Leucine, L-Isoleucine, L-Valine. Beberapa riset menemukan efek positif suplemen ini terhadap profil hormon para atlit. Selain itu, BCAA juga menempati urutan ke-2 setelah glutamine dalam hal jumlah yang terkandung di dalam otot rangka. Oleh karena itu adalah suatu hal yang logis namun juga ilmiah, untuk menggunakan suplemen ini bagi fitnesmania maupun atlit professional.

Namun, jangan mengira karena BCAA menempati urutan ke-2 dalam komposisi dalam otot berarti ia menempati urutan ke-2 pula dalam hal manfaat dan pentingnya. Hal ini dikarenakan ketiga asam amino dalam rangkaian BCAA ini adalah asam amino esensial, atau dengan kata lain, asam amino yang tidak bisa diproduksi oleh tubuh dan harus didapatkan dari makanan. Namun sekali lagi pentingnya menyadari bahwa tingkat aktifitas fisik praktisi fitnes maupun atlit adalah jauh lebih tinggi daripada tingkat aktifitas fisik individu sedenter (yang tidak aktif) sehingga lebih mengalami risiko kekurangan beberapa nutrisi esensial seperti BCAA.

Umumnya tambahan 1000 hingga 2000 mg BCAA saat perut kosong di pagi hari, maupun sebelum dan sesudah latihan akan sangat membantu proses pemulihan dan bahkan pembentukan otot bagi para praktisi fitnes dan atlit. Selain itu, BCAA yang umumnya tersedia dalam bentuk kapsul bisa dicampur pula pada bubuk protein maupun creatine untuk hasil yang lebih baik.

Untuk Menurunkan Komposisi Lemak Tubuh

Fat Burner Lipotropik

Pada awalnya, produk suplemen pembakar lemak hanya memiliki kategori lipotropik, yang terdiri dari betaine, choline, inositol, dan L-carnitine. Suplemen ini diyakini dan dipasarkan dengan iming-iming manfaat pengangkatan sel-sel lemak dari dalam tubuh untuk dimasak menjadi energi.

Namun belakangan ini ditemukan bahwa ternyata suplemen pembakar lemak kategori lipotropik ini tidak menimbulkan manfaat tersebut karena hasil penelitian yang dipakai masih pada tahap percobaan terhadap binatang, dan belum pada manusia. Adapun di antara keempat nutrisi lipotropik tersebut, L-carnitine lebih menikmati popularitas sebagai pembakar lemak lipotropik. Memang ditemukan efek pembakaran energi pada tingkat mitokondria (“dapur” energi sel tubuh yang memasak lemak) pada uji klinis pada manusia, namun penemuan tersebut tidak konsisten dengan penemuan-penemuan lain dengan protokol uji klinis yang sama ketatnya.

Secara konklusif, hingga saat ini konsumsi suplemen lipotropik tidak ditemukan mampu meningkatkan performa maupun pembakaran energi lemak secara signifikan. Dan kalaupun L-carnitine memberikan efek pembakaran lemak seperti yang ditawarkan oleh beberapa merk suplemen dan susu, dosis yang dianjurkan pun ada di kisaran 2000 mg per hari atau lebih kurang 4-15 kali lipat daripada anjuran pemakaian per saji.

Thermogenik

Kategori produk pembakar lemak thermogenik melakukan pembakaran lemak melalui peningkatan suhu dan metabolisme tubuh. Kategori ini pertama kali diperkenalkan oleh Steve Blechman pada tahun 1989 melalui suplemen dengan komposisi E/C/A (Ephedrine, Caffeine, Aspirin). Efektifitas suplemen ini termasuk luar biasa, dan merupakan suplemen non-preskripsi paling ampuh yang ada di pasaran pada waktu itu.

Dalam beberapa uji klinis terhadap keamanan dan efektifitas suplemen ini, termasuk studi 6 bulan yang dilakukan oleh National Insitute of Health (NIH) yang merupakan bagian dari FDA (Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat), ternyata tidak kalah terhadap dua produk preskripsi di Amerika yakni sibutramine dan orlistat. Dari segi harga pun jauh lebih terjangkau dan tidak memerlukan resep dokter untuk mendapatkannya.

Dengan mentalitas bahwa “lebih banyak berarti lebih baik” khayalak ramai yang membeli suplemen thermogenik E/C/A ini akhirnya pun mulai mengkonsumsinya secara kurang bijaksana. Meskipun sudah ada peringatan pada label yang melarang konsumsi untuk orang-orang berisiko menderita jantung namun peringatan itu diabaikan begitu saja. Justru orang-orang yang berisiko menderita jantung (yang umumnya adalah dari kalangan obesitas) yang mengkonsumsi suplemen E/C/A ini secara berlebihan. Tak pelak lagi, korban pun berjatuhan termasuk beberapa atlit bisbol papan atas di Amerika Serikat. Perusahaan asuransi pun menentukan premi yang jauh lebih tinggi kepada mereka yang mengaku menggunakan suplemen E/C/A tersebut. Akhirnya pada tahun 2003, suplemen pembakar lemak dengan komposisi E/C/A harus ditarik total dari pasaran menyusul serangkaian publisitas negatif yang muncul akibat penyalahgunaan suplemen ini.

Untuk atlit yang bertanding, penggunaan E/C/A akan terdeteksi oleh tes doping sehingga tidak dianjurkan untuk dipakai pada pertandingan. Dan untuk keperluan penurunan berat badan, kategori thermogenik sebenarnya tidak hilang dari pasaran dengan ditariknya E/C/A. Ditemukan bahwa beberapa zat ternyata bisa mengimbangi efek penurunan lemak tubuh E/C/A secara lebih aman dan efektif. Beberapa diantaranya yang patut disimak pada label suplemen adalah: citrus aurantium, green tea extract, l-tyrosine, l-phenylalanine, ginger extract dan caffeine.

Khusus untuk caffeine, masih bisa dikonsumsi untuk atlit yang dites doping. Namun yang perlu diperhatikan adalah dosis yang dikonsumsi agar tidak melebihi 2 mg per kilogram berat badan karena pada dosis ini caffeine akan terdeteksi terlalu tinggi dan dianggap mampu memberikan booster performa yang tidak adil untuk kompetisi.

Ingatlah selalu bahwa suplemen thermogenik tidak dianjurkan untuk ibu hamil & menyusui, serta tidak dianjurkan untuk penderita jantung, diabetes, dan siapapun yang sedang dalam pengobatan. Sebaiknya mengkonsumsi suplemen kategori thermogenik ini dalam kondisi tubuh yang sehat, serta tidak melebihi dosis yang dianjurkan oleh produsen.

Untuk Pemulihan

Minuman Karbohidrat & Elektrolit

Minuman yang mengandung karbohidrat dan elektrolit secara klinis memang terbukti mampu mengembalikan kesegaran tubuh, karena selain mensuplai kembali energi siap pakai dari karbohidrat, juga mengandung mineral-mineral penting (elektrolit) untuk mengembalikan apa yang telah ikut terbuang saat kita berkeringat.

Minuman ini, selain sangat dibutuhkan oleh atlit yang mengandalkan stamina, juga dibutuhkan oleh praktisi fitnes yang kerapkali berisiko tinggi menderita dehidrasi. Dehidrasi adalah kondisi tubuh yang telah kekurangan cairan dan elektrolit, sehingga fungsi tubuh menurun. Kondisi ini sangat berpengaruh terhadap performa stamina saat pertandingan, juga memiliki potensi untuk menjaga kesehatan beraktifitas terutama dalam mencegah keram dan cedera olahraga.

Antioksidan

Seperti yang telah dijelaskan pada segmen sebelumnya, suplemen antioksidan adalah suplemen yang sangat diandalkan oleh para praktisi fitnes dan atlit. Selain untuk menjaga kesehatan organ hati dan menangkal penimbunan radikal bebas (racun) dalam tubuh, antioksidan juga sangat diperlukan untuk memperbaiki jaringan-jaringan dan sel-sel tubuh yang rusak, serta mencegah dan mengurangi inflamasi (radang) pada otot dan saluran pernafasan.

Regenerasi sel-sel dan jaringan-jaringan tubuh yang lebih baik tentunya meningkatkan kualitas pemulihan dari seorang atlit maupun praktisi fitnes. Dengan peningkatan kualitas pemulihan ini, secara langsung maupun tidak langsung tentunya memberikan efek positif terhadap regimen latihan yang lebih sehat, reguler, dan konsisten. Hasilnya? Tentunya peningkatan performa yang lebih cepat dan signifikan.

Glucosamine & Chondroitin

Suplemen ini adalah suplemen untuk kesehatan persendian. Seperti kita ketahui bersama, hampir seluruh rangka tubuh saling tersambung oleh jaringan pengikat yang dinamakan persendian. Istilah awamnya adalah “tulang muda” atau “tulang lunak” yang ada di antara dua tulang.

Jaringan protein yang lunak ini seringkali dinamakan kolagen sebenarnya memiliki sifat yang lunak dan berfungsi memberikan lubrikasi (pelumasan) pada tulang agar dapat bergerak dengan lebih bebas dan luwes. Seiring bertambahnya usia dan tingginya tingkat pemakaian persendian pada individu aktif seperti praktisi fitnes dan atlit, maka jaringan ini pun bisa berubah kelenturan dan sifat lubrikatifnya. Untuk membantu memproduksi kolagen baru pada persendian, suplemen glucosamine dan chondroitin ternyata memberikan hasil yang cukup menjanjikan dalam uji klinis pada manusia.

Kini suplemen glucosamine & chondroitin seringkali menjadi suplemen andalan para atlit dunia dalam menjaga kelestarian karier mereka agar mampu berprestasi untuk jangka waktu yang lebih lama dan untuk karier kompetisi yang lebih sehat. Umumnya suplemen ini tersedia dalam dosis masing-masing 500 – 1500 mg Glucosamine dan Chondroitin. Adapula produsen yang menambahkan vitamin C untuk fungsinya dalam memperbaiki jaringan tubuh.

Untuk Peningkatan Hormon Secara Alamiah

Tribulus Terestris

Tribulus terestris adalah sejenis herbal yang pertama kali ditemukan di Bulgaria dan Rusia. Kandungan aktif dalam herbal ini adalah steroidal saponin yang bernama protodioscin. Cara kerja dari herbal ini adalah dengan merangsang produksi Luteinizing Hormone (LH) dari dalam tubuh. LH adalah hormon yang memberikan sinyal atau komando atau perintah kepada organ adrenal corteks dan testis untuk memproduksi lebih banyak hormon testosteron. Jadi efek peningkatan testosterone tidaklah terjadi secara langsung, melainkan dengan peningkatan hormon pendukung produksi testosterone.

Testosteron adalah hormon yang menentukan pembangunan dan pembentukan otot. Semakin banyak testosteron yang dimiliki seseorang, semakin mudah bagi dirinya untuk menambah massa otot. Inilah salah satu sebab mengapa testosteron buatan seperti anabolic steroids banyak dipakai oleh para atlit binaraga maupun cabang lain di berbagai bagian dunia. Namun pemakaian testosteron buatan menimbulkan efek samping yang berbahaya antara lain: peningkatan hormon estrogen pada pria, timbul jerawat dan bisul di sekujur tubuh, hingga berhentinya produksi testosteron secara alamiah yang berarti menurunnya fungsi seksual pria secara normal.

Tribulus terrestris adalah salah satu metode yang lebih alamiah karena bekerja masih dalam koridor kapasitas produksi testosteron di dalam tubuh, dan caranya pun secara tidak langsung (melalui LH). Peningkatan testosteron dengan suplementasi herbal tribulus terrestris boleh dikatakan aman dan legal untuk penggunaan pada pria, dan tidak dianjurkan untuk wanita.

ZMA

ZMA adalah merk terdaftar miliki SNAC System, suatu perusahaan inovatif yang bergerak di bidang riset dan pengembangan produk mineral untuk mendukung produksi testosteron. ZMA adalah gabungan dari mineral zinc monomethionine aspartate, magnesium aspartate dan vitamin B6. Komposisi dan formulasi dari suplemen ini adalah baku dan ekslusif miliki SNAC System.

Dalam beberapa riset yang dilakukan pada atlit-atlit muda di NFL (National Football League) di Amerika Serikat, ditemukan bahwa atlit-atlit tersebut mengalami kekurangan zinc dalam darah mereka. Suplementasi dengan ZMA ternyata mampu meningkatkan secara signifikan produksi testosteron alamiah serta kekuatan (strength) dari atlit-atlit muda tersebut.

Salah satu keunikan produk ini adalah anjuran konsumsinya pada malam hari saat perut kosong sebelum tidur. Hal ini dimaksudkan untuk mengoptimalkan produksi hormon testosteron dan growth hormone (hormon pertumbuhan) yang memang mencapai puncaknya dalam 90 menit sesudah tidur. Selain itu banyak pula atlit yang merasakan tidur yang lebih pulas dengan suplemen ini.

GABA

GABA atau kepanjangannya Gamma Amino Butyric Acid, adalah sejenis asam amino yang mempengaruhi sistem hypothalamus yang terletak di bawah otak. Hypothalamus adalah kelenjar yang memproduksi hormon pertumbuhan (growth hormone atau sering dikenal dengan GH) pada manusia. Dalam beberapa penelitian, ditemukan bahwa GABA mampu meningkatkan produksi alami GH tubuh hingga 550% lebih tinggi daripada biasanya. Bahkan penemuan ini dikatakan merupakan penemuan produksi GH tertinggi yang pernah tercatat dengan menggunakan suplemen non preskripsi.

Konsumsi GABA juga dianjurkan sebelum tidur karena efeknya yang dilaporkan menimbulkan sensasi relaks pada pemakainya. Peningkatan kualitas tidur juga dilaporkan sebagai salah satu manfaat dari penggunaan suplemen ini. Anjuran konsumsi umumnya adalah 2000 hingga 5000 mg. Sebaiknya dimulai dengan dosis yang lebih rendah terlebih dahulu karena untuk pemakaian awal, sensasi panas pada kulit cukup sering dialami.

Sekilas mengenai GH, ia adalah salah satu hormon anabolik (pertumbuhan otot) yang cukup dominan di samping testosteron. Salah satu manfaat lain yang cukup populer adalah meningkatnya efektifitas tubuh dalam membakar kalori, sehingga seringkali dipakai untuk masa pra-kompetisi pada beberapa atlit binaraga. Namun pemakaian versi sintetik (yang hanya bisa didapat dari resep dokter) seringkali memberikan efek negatif antara lain pembesaran organ-organ internal tubuh, serta retensi air yang berlebihan.

Penggunaan suplemen seperti GABA tidak menyebabkan efek negatif tersebut karena ia bekerja dengan sistem alamiah tubuh, bukan dengan memasukkan bahan sintetik seperti yang dilakukan oleh banyak atlit-atlit yang curang.

Melatonin

Melatonin adalah suplemen yang banyak digunakan oleh orang-orang yang menderita jetlag dan susah tidur. Terkadang program latihan yang terlalu intensif menyebabkan tubuh untuk bekerja terlalu aktif dan menimbulkan overtraining. Salah satu gejala overtraining yang paling populer adalah kesulitan untuk tidur atau insomnia. Suplemen melatonin di dalam tubuh akan diubah menjadi hormon serotonin dan dopamine yang merupakan hormon relaksan yang memicu timbulnya rasa kantuk. Pada beberapa institusi olahraga, suplemen ini mungkin dilarang pemakaiannya. Untuk atlit yang ingin menggunakannya, tanyakan dahulu apakah suplemen ini dilarang pemakaiannya atau masuk dalam daftar doping institusi yang menaungi cabang atau event tersebut.

Suplemen Yang Telah Dilarang

Ephedrine

Ephedrine atau bentuk herbalnya ephedra alkaloids dari tanaman Ma Huang adalah suplemen yang telah dilarang. Awalnya hebal ini telah dipakai oleh ahli pengobatan tradisional China selama ribuan tahun untuk mengobati gangguan pernafasan. Namun efek penurunan lemaknya bila digabungkan dengan caffeine ternyata cukup baik dan termasuk cukup aman. Hanya saja konsumen terkadang menyalahgunakan suplemen ini hingga akhirnya jatuh beberapa korban jiwa, serta timbul berbagai efek samping yang muncul akibat penggunaan berlebihan. Secara obyektif, pemakaian suplemen ini termasuk aman apabila digunakan oleh individu yang sehat dan tidak melebihi dosis yang dianjurkan. Namun, kini baik pihak pemerintah maupun institusi olahraga telah melarang penggunaan ephedrine pada suplemen. Pemakaian ephedrine pada atlit pun telah dilarang.

Prohormon – Protestosteron – Prosteroid

Prohormon adalah suplemen yang pernah populer di awal tahun 2000-an hingga akhirnya dilarang penjualan dan penyebarannya di awal tahun 2005. Secara struktural prohormon adalah derivatif dari bahan baku steroids, di mana ia diproses dalam organ liver (hati) menjadi hormon testosteron. Beberapa prohormon yang terkenal adalah 19 Nor-Androstenedione, 19 Nor-Androstenediol, 4-Androstenedione, dan 4-Androstenediol. Para pemakai prohormon tersebut akan terdeteksi dalam tes doping dan dikenal sebagai steroids nandrolone.

Protestosteron dan prosteroid pada dasarnya adalah beberapa bentuk hormon testosteron yang telah dimodifikasi struktur kimiawinya sehingga memiliki efek aromatisasi yang lebih minim. Aromatisasi adalah proses berubahnya kelebihan testosteron dalam tubuh menjadi hormon estrogen. Aromatisasi adalah penyebab utama terbentuknya kelenjar payudara pada pria yang sering ditemukan pada remaja pria (saat produksi testosteron berlebih) maupun pada penyalahguna steroids.

Beberapa jenis protestosteron dan prosteroid yang terkenal adalah Methyl-1-Testosterone (atau lebih dikenal sebagai 1-Test) dan methyldienolone (Methyl-D). Keduanya juga telah diklasifikasikan sebagai steroids dan para pemiliknya akan terkena tuduhan yang sama beratnya dengan kepemilikan steroids maupun narkotika.

Untuk penyebaran di Amerika Serikat telah dihentikan. Bahkan lisensi untuk memproduksi prohormon, protestosteron dan prosteroid telah dicabut, sehingga tidak ada satupun pabrik di Amerika Serikat yang boleh memproduksi produk tersebut.

Namun masih ada beberapa yang masih tersedia di Indonesia karena para pengimpor berusaha menyimpan stok dalam jumlah banyak. Hal ini sangatlah merugikan dunia olahraga di Indonesia karena dampaknya pada atlit adalah mereka mengkonsumsi produk tersebut dengan asumsi produk tersebut adalah suplemen, sementara sebenarnya konsumsi (bahkan sekadar kepemilikan) produk tersebut sudah merupakan pelanggaran hukum. Bisa dipastikan produk prohormon, protestosteron dan prosteroid yang masih tersedia adalah hasil produksi tahun 2004 dan umumnya telah mendekati tanggal kadaluarsa. Potensi bahaya produk ilegal yang hampir kadaluarsa adalah terlalu besar untuk dipertaruhkan pada tubuh yang sehat. Hanya ada satu saran untuk para praktisi fitnes dan atlit, hindari produk-produk tersebut.

Suplemen Yang Masih Perlu Dibuktikan Lebih Lanjut

Industri suplemen adalah industri yang cukup besar di Amerika Serikat dan masih belum mendapatkan regulasi yang ketat dari FDA, sehingga kerapkali produsen yang berorientasi pada profit semata melancarkan upaya penjualan dengan klaim-klaim liar yang tidak bisa dibuktikan keabsahannya secara ilmiah.

Ironisnya kebanyakan dari perusahaan ini adalah juga perusahaan yang sama yang memproduksi produk suplemen berkualitas seperti whey protein, creatine monohydrate, L-glutamine, dan beberapa produk suplemen efektif lainnya. Keyakinan dan loyalitas konsumen akan produk-produk dari berbagai merk tersebut ternyata dimanfaatkan oleh beberapa (tidak semua tentunya!) perusahaan untuk meluncurkan produk-produk yang terkesan inovatif namun tanpa didukung oleh serangkaian pembuktian ilmiah pada produk-produk baru tersebut.

Beberapa suplemen yang diluncurkan bahkan memiliki penjelasan teori di atas kertas yang cukup menawan, namun pada saat beberapa produk tersebut diuji dalam protokol klinis, sebagian besar dari mereka tidak menghasilkan bukti sesuai yang diteorikan. Itupun dengan catatan sang produsen memiliki keyakinan akan produk yang mereka produksi dan niat yang tulus untuk membuktikan efektifitas produknya dengan mengeluarkan uang yang tidak sedikit untuk membiayai uji ilmiah yang umumnya cukup mahal ini.

Beberapa suplemen berikut ini termasuk dalam kategori suplemen yang masih harus dibuktikan lagi efektifitasnya dalam uji ilmiah berlatar klinis yang ketat dan berstandar tinggi. Ada kemungkinan beberapa produk yang disebutkan berikut ini memiliki efek ergogenik (peningkatan performa) / anabolik (peningkatan massa otot) / anti-katabolik (mencegah penyusutan otot) yang baik, namun sejauh ini dari data ilmiah yang terkumpul dan terbatas serta kurangnya studi ilmiah yang menyeluruh dan obyektif, maka suplemen-suplemen berikut ini secara terpaksa dimasukkan ke dalam kategori ini.

Namun ada pula yang sebenarnya menyimpan potensi sukses yang baik, hanya saja belum cukup banyak penelitian dan pembuktian ilmiah yang obyektif yang tersedia. Sementara itu perusahaan-perusahaan suplemen sepertinya oleh kondisi yang ada untuk diharuskan mengambil posisi seperti “penjudi” yang harus siap menghabiskan uang yang tidak sedikit untuk membuktikan suplemen-suplemen baru tersebut. Bila terbukti efektif, maka beruntunglah mereka karena investasi penelitian ilmiah mereka bisa terbayar melalui penjualan suplemen yang laku keras. Bila terbukti tidak efektif, maka mereka mempunyai 2 pilihan: mencoba mengembalikan investasi penelitian mereka dengan membesar-besarkan efektifitas yang tidak pernah ada (berarti mencoba menipu konsumen untuk menutupi kerugian mereka), atau menggigit jari.

Nitric Oxide Booster

Salah satu jenis suplemen yang mencuat popularitasnya adalah Nitric Oxide Booster. Popularitas suplemen ini bermula dari penemuan efek nitric oxide yang ditimbulkan oleh obat sildenafil sitrat yang dijual dengan nama Viagra® oleh perusahaan farmasi Pfizer. Perusahaan suplemen pun ramai-ramai mencari prekursor Nitric Oxide non-obat, dan menurut pengakuan mereka dari beberapa studi klinis pada beberapa pasien rumah sakit, asam amino arginine merupakan prekursor Nitric Oxide yang cukup ampuh.

L-Arginine, Arginine HCL, Arginine Alpha Ketoglutarate (AAKG), Arginine Ethyl Ester adalah beberapa bentuk arginine yang dikatakan bisa meningkatkan produksi nitric oxide dalam tubuh. Nitric oxide adalah sejenis senyawa yang diproduksi oleh tubuh untuk melegakan pembuluh darah agar terjadi aliran darah dan pengiriman nutrisi yang lebih baik, sehingga muncullah istilah vasodilasi, vasodilatasi atau hemodilasi. Efeknya adalah rasa pump (menggelembung) pada otot yang terjadi akibat besarnya volume darah yang berkumpul ke bagian otot yang dilatih. Untuk “menutupi” keraguan mereka sendiri, para produsen pun menambahkan creatine ke dalam formula nitric oxide booster dengan harapan efek creatine bisa membuat konsumen percaya formula nitric oxide booster mereka bekerja dengan baik.

Sejauh ini, hanya ada 1 studi klinis terhadap produk Arginine yang dilakukan oleh Baylor University. Hasilnya masih cukup meragukan, karena hanya memberikan peningkatan kekuatan anaerobik (kemampuan otot mengangkat beban latihan) dalam parameter yang tidak sama dengan parameter pengukuran kekuatan untuk kompetisi.

Sejarahnya pun Arginine adalah prekursor growth hormone (GH) yang tidak terbukti khasiatnya pada tahun 1980-an. Bersama dengan Ornithine, Arginine akhirnya tenggelam dalam dunia suplemen hingga akhirnya mencuat kembali di tahun 2000-an. Yang tentunya menjadi pertanyaan adalah, apabila arginine merupakan prekursor nitric oxide yang efektif, tentunya efek pump pada otot sudah dirasakan sejak suplemen ini dijual pada tahun 1980-an sebagai prekursor GH. Namun, ternyata tidak ada satupun laporan di tahun 1980-an akan kemampuan suplemen arginine ini untuk meningkatkan rasa pump pada otot. Apabila arginine yang dijual pada hari ini adalah arginine yang sama dengan yang dijual 20 tahun yang lalu, maka mengapa harus menunggu hingga hari ini efek vasodilatasi itu bisa dirasakan?

Potensi arginine sebagai suplemen ergogenik (peningkat performa) tampaknya tidak akan bertambah besar untuk tahun-tahun ke depan. Kecuali ada 2 atau 3 studi klinis pada manusia yang dilakukan dengan protokol yang konsisten yang bisa membuktikan hasil yang konsisten pula. Sebelum ada hasil yang lebih jauh, suplemen nitric oxide booster tampaknya tidak akan membawa hasil yang signifikan.

Myostatin Blocker

Pada akhir dekade 90-an, para ilmuwan menemukan beberapa spesimen fauna yang memiliki jumlah otot yang jauh lebih besar daripada saudara satu species-nya. Ternyata ditemukan bahwa spesimen fauna yang lebih berotot tersebut (tikus dan sapi holstein) memiliki myostatin yang lumpuh.

Myostatin adalah sejenis protein yang dimiliki oleh hampir semua mamalia yang menghambat pertumbuhan otot dan membuat pertumbuhan otot menjadi sulit dan tidak maksimal. Lumpuhnya myostatin memberikan kesempatan pada tubuh untuk menambah massa otot secara cepat walaupun tanpa latihan beban sama sekali.

Beberapa perusahaan suplemen menggabungkan upaya riset dan pengembangan untuk mencari bahan alamiah yang bisa menetralisir (melumpuhkan) aktifitas dari myostatin ini. Menurut pengakuan mereka, telah ditemukan sejenis ganggang laut dengan nama latin cytosteira canariensis yang cukup menjanjikan. Sebelum riset dan pengembangan rampung serta sebelum ujicoba ilmiah terhadap manusia bisa membuktikan kebenaran efektifitas dan keamanan ganggang laut tersebut, produk ini telah diluncurkan ke pasaran dengan modal harapan dan keinginan untuk meraup untung secara cepat, hingga kini tidak ada satupun dari 4 jenis suplemen ganggang laut ini yang bertahan.

Methoxyisoflavone

Methoxyisoflavone termasuk salah satu suplemen yang sempat mencuat popularitasnya di akhir dekade 90-an dan dikabarkan memiliki efek peningkatan massa otot yang setara dengan steroids. Namun ternyata salah satu kandungan dalam kacang kedelai ini tidak mampu dibuktikan dalam studi klinis maupun penjualan di pasaran. Karena tidak terbukti khasiatnya, suplemen ini pun secara perlahan tenggelam dan hingga hari ini hanya ada 1 atau 2 perusahaan yang masih menjualnya. Penjualan produk tersebut masih digabungkan dengan whey protein isolate (WPI) dengan harapan konsumen akan merasakan perkembangan massa otot mereka adalah berkat methoxyisoflavone, walaupun sebenarnya WPI yang merupakan kandungan utama yang membantu pertumbuhan otot.

Ada beberap pula yang mencoba menggabungkannya dengan suplemen ecdysterone (akan dijelaskan lebih lanjut), namun ternyata tidak juga membawakan hasil perkembangan massa otot seperti yang diklaim oleh para produsen. Meskipun beberapa pihak menganjurkan dosis 800 mg per hari (4 kali lipat daripada yang dianjurkan oleh saran penyajian methoxyisoflavone umumnya), hal tersebut dirasakan terlalu boros dan mahal. Karena pada dosis aslinya (200 mg) methoxyisoflavone sudah lebih mahal daripada suplemen whey protein yang jelas lebih terbukti dalam hal membantu peningkatan massa otot.

Creatine Cair

Creatine cair adalah salah satu jenis suplemen yang perlu dihindari. Secara struktural kimiawinya, creatine monohydrate tidak mampu bertahan lama di dalam cairan. Dalam hitungan jam, creatine monohydrate yang tercampur dengan air akan terdegradasi (turun kualitas) menjadi creatinine, sejenis metabolit creatine yang tidak berguna. Apabila produk tersebut akan dijual dalam bentuk cair untuk masa pajang 2 tahun, maka hampir dipastikan sudah tidak ada creatine yang tersisa karena hampir semuanya sudah terdegradasi menjadi creatinine.

Hal ini dibuktikan dalam beberapa analysis laboratorium, di mana hanya ditemukan 1,2 mg creatine di dalam 1 ml cairan yang pada awalnya diklaim memiliki kandungan 500 mg creatine. Hal ini berarti kandungan creatine yang tersisa adalah di bawah 1% dari yang diklaim, yang dalam arti kata lain produk tersebut tidak tepat kandungan creatine-nya hingga 99+%! Dalam Merck Index (sejenis acuan kimiawi terlengkap) menyatakan bahwa creatine tidak bertahan lama dalam cairan, apalagi yang mengandung tingkat keasaman yang tinggi. Dan untuk mendapatkan 500mg creatine dalam 1 ml air, maka kepekatan campuran tersebut haruslah seperti pasta gigi, tidak seperti cairan sirop biasa.

Saran terbaik adalah untuk menghindari produk creatine cair karena produk tersebut tidak terbukti secara ilmiah, dan kini salah satu penjual creatine cair terkenal tengah menghadapi gugatan jutaan dollar dari produsen creatine bubuk karena klaim-klaim yang menghina creatine bubuk tanpa bukti ilmiah yang solid.

Ecdysterone

Ecdysterone adalah salah satu sterol dari tumbuh-tumbuhan sejenis bayam yang diyakini memiliki efek anabolik yang setara steroids. Namun ternyata melalui uji laboratorium, ditemukan bahwa sebenarnya struktur kimiawi dari ecdysterone adalah menyerupai hormon serangga.

Mengenai bagaimana produk ini bisa dijual sebagai suplemen memang tidak diketahui benar sejarahnya. Satu-satunya laporan “ilmiah” yang ada adalah dalam Sports Science Bulletin yang konon hanya terbit 1 kali. Laporan tersebut pun tidak menyebutkan secara jelas protokol studi klinis yang dilakukan, sementara Sports Science Bulletin hingga hari ini tidak pernah ditemukan lagi cetakan edisi satu-satunya tersebut. Dan hingga hari ini pun tidak seorangpun ilmuwan yang mengklaim pernah menjalankan studi yang dimuat dalam bulletin tersebut.

Suplemen ecdysterone juga cukup populer digabungkan dalam methoxyisoflavone, namun hal ini hanya membuat suplemen gabungan ini menjadi lebih mahal daripada suplemen lainnya. Sementara suplemen lain masih memberikan hasil yang lebih pasti dan lebih ekonomis, sehingga membuat suplemen ini masuk ke dalam kategori yang tidak pernah bisa dibuktikan. Karena selain sangat mahal untuk melakukan studi klinis, itupun dengan risiko tidak efektif, sehingga perusahaan suplemen lebih memilih untuk menjualnya begitu saja. Seiring waktu, suplemen ini tampaknya akan tenggelam dan hilang dari pasaran.

HMB

HMB atau Beta Hydroxy-Methylbutyrate adalah metabolit dari asam amino esensial leucine. Suplemen ini pertama kali ditemukan dan dipromosikan oleh Bill Phillips, kala itu pimpinan dari perusahaan suplemen raksasa EAS sebagai suplemen anti-katabolik (pencegah penyusutan otot) yang efektif. Namun, dalam beberapa studi klinis yang dilakukan oleh medical center maupun universitas terkemuka, HMB gagal menunjukkan hasil yang konsisten yang mendukung klaim tersebut.

Satu-satunya hasil positif yang dicatat oleh HMB adalah saat ia digabungkan dengan creatine. Namun tampaknya hasil positif tersebut adalah hasil positif dari creatine bukan dari HMB. Jadi catatan positif yang dimiliki HMB pun masih belum bisa diklaim sebagai efek langsung dari HMB, dan lebih merupakan efek gabungan HMB dengan creatine. HMB termasuk pula sebagai suplemen yang sulit dan mahal untuk diproduksi, hal ini membuat harga HMB di pasaran termasuk sangat tinggi. Untuk ukuran suplemen yang sulit dibuktikan efektifitasnya, HMB adalah suplemen yang terlalu mahal untuk dikonsumsi. Muncul di pertengahan tahun 1990-an, hingga hari ini mungkin sudah tidak ada lagi perusahaan yang menjual HMB.

Chitosan / Fat Blocker

Chitosan adalah produk suplemen serat organik dengan bahan dasar kulit binatang laut seperti kerang maupun udang. Meskipun organik, ia tidak dapat diserap oleh tubuh dan karena dalam wujud serat dirasakan mampu menjadi penyerap lemak makanan, sehingga diharapkan dapat mencegah tubuh menyerap lemak yang masuk.

Hal ini dimanfaatkan oleh beberapa perusahaan suplemen untuk memasarkannya sebagai produk yang memungkinkan konsumennya untuk mengkonsumsi gorengan tanpa perlu rasa takut gemuk, karena chitosan akan menyerap lemak dari makanan dan mencegah lemak makanan tersebut terserap oleh tubuh. Secara teoritis, tampaknya konsep suplemen ini cukup masuk akal. Namun dalam kenyataannya, pengujian terhadap sampel feces orang yang mengkonsumsi chitosan, tidak ditemukan kadar lemak yang lebih tinggi dibandingkan orang yang tidak mengkonsumsi chitosan. Hal ini berarti, chitosan tidak bekerja sesuai dengan yang dijanjikan.

Yang cukup unik, justru menurut kabar terakhir dari dunia pangan Indonesia, chitosan akan dipakai untuk mengawetkan beberapa jenis makanan dan merupakan alternatif pengawet makanan yang lebih alami, aman dan murah (Rp.12.000,- per kg) daripada formalin (Rp.16.000,- per kg).

Carb Blocker

Suplemen carb blocker muncul karena trend low-carb diet yang melanda Amerika Utara yang dipromosikan oleh Dr.Atkins melalui Atkins Diet-nya. Pada awalnya ditemukan sejenis kacang merah yang berwarna putih (white kidney bean) dengan nama species Phaseolus Vulgaris yang dikabarkan bisa mencegah penyerapan karbohidrat yang masuk ke dalam tubuh. Hal ini tentunya menjadi “kabar baik” bagi banyak praktisi low-carb diet, karena akhirnya ada suplemen yang membantu mereka mengkonsumsi karbohidrat lebih banyak sambil menjalankan low-carb diet.

Suplemen ini pun mencetak sukses penjualan yang cukup tinggi, namun akhirnya ditemukan bahwa sebenarnya orang-orang masih bertambah gemuk meskipun telah mengkonsumsi suplemen carb blocker tersebut. Meskipun mencatat hasil yang cukup baik dalam satu studi klinis, namun ternyata hal tersebut tidaklah membuat suplemen tersebut mampu bertahan lama di pasaran. Produk carb blocker ini akhirnya tidak sukses mungkin tidak dikarenakan ia tidak efektif, tetapi mungkin lebih dikarenakan produk tersebut tidak mendidik pola makan yang sehat pada konsumennya, sehingga akhirnya hanya menjadi salah satu “pil ajaib” yang tidak pernah bisa berhasil.

Ribose

Ribose juga merupakan salah satu suplemen yang mencuat beberapa tahun setelah Creatine Monohydrate. Pasalnya, Ribose adalah salah satu jenis gula yang membantu produksi creatine secara alamiah dalam tubuh sekaligus juga memiliki peranan unik dalam siklus pembentukan energi yang digenerasi oleh creatine. Namun ternyata apa yang secara teori atau di atas kertas terlihat begitu masuk akal ternyata tidak bekerja sesuai dengan yang diharapkan. Suplemen Ribose ternyata terurai terlalu menyeluruh dan terlalu cepat sehingga saat dibutuhkan untuk memproses dan memproduksi energi, sudah tidak ada ribose lagi yang tersisa di dalam tubuh. Hasilnya sudah bisa ditebak, yakni tidak adanya ribose dari suplemen yang tersisa di dalam tubuh untuk bisa melakukan fungsinya. Ribose juga tidak pernah dilirik untuk diproduksi dan dipasarkan oleh perusahaan suplemen yang lebih besar, dan hanya menarik perhatian beberapa perusahaan suplemen yang lebih kecil. Hingga hari ini, mungkin hanya ada 1 perusahaan suplemen fitnes yang masih rajin menjual produk ribose di antara ratusan merk yang tidak menjualnya.

Pyruvate

Pyruvate adalah salah satu senyawa yang sempat mencuat populer di pertengahan 1990-an dan dipromosikan sebagai agen peluruh sel lemak yang ampuh. Beberapa studi tahap awal pada hewan (tikus) memang tampak cukup menjanjikan, namun ternyata hasil penelitian tersebut langsung memicu minat banyak perusahaan suplemen untuk menjualnya sebagai “pil ajaib” yang berikutnya. Namun, pada akhirnya pasar jualah yang menjadi hakim teradil untuk semua suplemen tersebut. Hasil yang dijanjikan oleh perusahaan suplemen tentang produk pyruvate-nya tidak kunjung tiba, dan akhirnya pyruvate gugur sebagai salah satu suplemen yang terlupakan.

  Binaraga Shop

[View All]
on sale!

Nettle 250 MG

Disc 10 % Off
Rp 250000
Rp 225,000
on sale!

Devils Claw

Disc 10 % Off
Rp 180000
Rp 162,000
Disc 10 % Off
Rp 430000
Rp 387,000
Disc 10 % Off
Rp 375000
Rp 337,500